jump to navigation

AL-Rhaudlah Assyarifah 8 Maret 2008

Posted by Syahid. in Sejarah.
Tags: , ,
trackback
Tak afdol rasanya datang ke Madinah tanpa berziarah ke makam Baginda Rasul, junjungan yang namanya kita sebut minimal 32 kali dalam sehari semalam. Ya, ibadah di Madinah bukan sekadar shalat di Masjid Nabawi yang nilainya seribu kali lebih baik dibanding di

masjid biasa, tapi juga berziarah kepada Rasullah, sang Penghulu.Maka palingkanlah wajah ke Green Dome, Kubah Hijau yang dari kejauhan tampak amat cantik di bagian depan Masjid Nabawi. Di bawah kubah itu, manusia terbaik, dimakamkan bersama dua sahabatnya, Abu Bakar as Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Di dekat makam Rasul ada sebuah tempat yang paling cantik dibanding seluruh bagian masjid di dalam masjid. Berwarna putih keemasan dan tak pernah kosong dari jamaah, itulah Raudhah, Taman Surga. Saat ini hampir tak ada batas antara Raudhah dan Makam Rasul. Semua menjadi satu bagian di dalam Masjid Nabawi.

Bila mendekati Raudhah, kita akan melihat juga areal terbuka dengan atap berupa payung putih yang dapat dilipat. Di situlah, jamaah wanita menunggu antrean untuk bisa bergantian memasuki Raudhah. Askar dan dibantu petugas Indonesia akan mengatur rombongan jamaah perempuan yang akan memasuki Raudhah.

Raudhah adalah tempat mustajab untuk berdoa. Keyakinan tersebut membuat jamaah haji dari berbagai negara yang berada di Madinah, berbondong-bondong menuju Masjid Nabawi sekaligus untuk dapat memanjatkan doa di Raudhah. Tapi Taman Surga yang terbatas itu hampir tak sebanding dengan ribuan jamaah yang ingin sekadar meletakkan dahi bersujud dan memanjatkan doa serta salam bagi Baginda yang Mulia. Perjuangan menuju Raudhah cukup berat.

Keutamaan Raudhah ini disampaikan langsung oleh Rasulullah, ”Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman (Raudhah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam.” (Shahih Bukhari)

Pengertian Raudhah sebagai taman surga pada hadist tadi lantas ditafsirkan oleh para ahli. Antara lain di tempat itulah Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagian-Nya karena dilakukan zikir serta pemujaan kepada Allah yang tentu saja surga balasannya. Tempat itu pula akan dipindahkan oleh Allah ke surga setelah kiamat kelak, sehingga menjadi bagian taman surga yang hakiki.

Letak Raudhah sendiri, seperti dinyatakan dalam hadist Rasul, yakni antara rumah dan mimbar makam Rasul SAW. Adapun jarak antara rumah Rasul dan mimbarnya sekitar 22 meter dan panjang ke belakang 15 meter. Luas keseluruhan sekitar 144 m2. Kini Raudhah ditandai dengan pilar-pilar warna putih dengan beragam ornamen khas.

Makam Rasul sendiri berwarna hijau keemasan dengan bentuk seperti jeruji bundar. Tapi kita tak bisa melongok ke dalamnya. Jangankan melongok ke dalam, baru memandang dari kejauhan saja, air mata telah bercucuran. Di samping itu, di area Raudhah terdapat beberapa tiang (/usthuwaanah/) yang dianggap penting. Antara lain Tiang Siti Aisyah, Tiang Taubah atau lebih dikenal Tiang Abu Lubabah, Tiang as-Sarir, Tiang al-Haras serta Tiang al Wufud.

Selain beribadah shalat sunnah, di Raudah, banyak yang berdoa. Di dalam, suara-suara takbir, tahmid dan tahlil diiringi dengan shalawat kepada Rasulullah dan lirihnya doa telah bercampur jadi satu. Hampir seluruh jamaah menitikkan air mata karena terharap dosa-dosanya diampuni dan terhindar dari siksa api neraka.

Satu tempat lagi di area tersebut yang juga banyak dipadati jamaah adalah bekas serambi Rasulullah, tempatnya berada persis di belakang makam beliau. Tidak terlalu luas, hanya sekitar 5×5 meter. Seperti halnya di Raudhah, di sini tidak mudah bagi jamaah untuk bisa mendapat tempat sebelum terlebih dahulu berdesak-desakan.

Jamaah pun memanfaatkan kesempatan berada di area ini untuk shalat dua rakaat, berdzikir, berdoa maupun membaca Alquran. Para jamaah enggan untuk beranjak dari sini sebelum usai shalat Isya.

Karena areal yang terbatas itu, pengelola masjid mengatur waktu. Bagi jamaah perempuan, memasuki Raudah bisa dari pintu 29. Waktunya pukul 07.00-10.00 waktu setempat dan dibuka lagi selepas Dzuhur sekitar pukul 14.00-13.00. Di sini, jamaah dikelompokkan berdasar asal negara. Umumnya Indonesia disatukan dengan jamaah Melayu lainnya. Sedangkan jamaah Arab dikumpulkan dengan sesamanya agar tak terjadi tubrukan karena postur yang berbeda.

Bagi jamaah lelaki, tentu lebih leluasa karena bisa senantiasa masuk ke Raudhah. Namun semestinya bergantian karena jamaah lain juga ingin berziarah ke tempat itu. Bagi pria, pintu yang dianjurkan untuk memasuki Raudah dan makam Rasul adalah Pintu Jibril, berziarah ke Makam Rasul kemudian baru ke Raudhah.

Bagi penyandang cacat, tak perlu khawatir tak bisa memasuki Raudhah. Dari pintu 29 (untuk wanita), tersedia jalur khusus untuk kursi roda (arabiyat). Antrean kursi roda ini cukup panjang. Pintunya di paling kanan (di pagar pembatas antara jamaah pria dan wanita) dan akan dibuka setelah jamaah biasa masuk. Jalur kursi roda dibuat khusus. Ketika jamaah lain menunggu di bawah atap payung lipat, jamaah dengan kursi roda dibuatkan jalur khusus hingga kemudian memasuki Raudah dari arah kanan. Mereka juga di atur dengan satu ruang yang diberi pembatas tali untuk sekitar delapan kursi roda beserta pendorongnya. Pengelola Masjid Nabawi cukup memahami bahwa Raudhah tak hanya untuk mereka yang normal tapi yang memiliki keterbatasan pun ingin mendudukkan dirinya di Taman Surga dan melihat makam Rasul dari dekat.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: